Tempat Wisata Bersejarah Di Kota Surabaya

By | August 25, 2022

KOMPAS.com
– Hari Pahlawan yang diperingati setiap x Nov, tak bisa dilepaskan dari Kota Surabaya, Jawa Timur.

Hari Pahlawan ditetapkan setelah terjadi pertempuran besar di Surabaya antara masyarakat Surabaya dan tentara Inggris.

Salah satu pemicu terjadinya pertempuran berdarah ini yaitu tewasnya Brigadir J Mallaby, pimpinan tentara Inggris di wilayah Jawa Timur.

Kematian Mallaybu memicu kemarahan pihak Inggris dan mereka menerbitkan ultimatum besar pada 10 Nov 1945.

Baca juga: Semanggi Suroboyo, Sisi Lain Kota Surabaya yang Terlupakan

Salah satu isinya adalah meminya rakyat Indonesia untuk menyerahkan seluruh persenjataan dan berhenti melakukan perlawanan pada tentara Inggris.

Tenggang waktu ultimatum itu berlaku hingga 10 November 1945 pukul 06.00 WIB. Jika diabaikan makan Inggris akan menyerbu Kota Surabaya dari berbagai arah.

Namun ultimatum itu diabaikan dan terjadilah perang besar di Surabaya yang berlangsung selama iii minggu.

Kala itu banyak warga sipil yang menjadi korban. Perang tersebut adalah perang besar pertama melawan tentara asing setelah Proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Perang tersebut menjadikan Surabaya dikenal dengan Kota Pahlawan dan pemerintah pun menetapkan pertempuran 10 Nov 1945, menjadi Hari Pahlawan.

Baca juga: Mengenal Gedung Singa Algemeene, Cagar Budaya Surabaya yang Kini Dijual, Ada Sejak Tahun 1901

Dan berikut 7 bangunan bersejarah di Kota Surabaya:

1. Hotel Majapahit


ANTARA FOTO/ZABUR KARURU
Warga menyaksikan perobekan bendera Belanda yang berkibar di Hotel Majapahit saat teatrikal peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/9/2022). Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi bendera Indonesia pada xix September 1945.

Hotel mewah yang berada di Jalan Tunjungan, Surabaya ini menjadi salah satu saksi bisu pertempuran di Surabaya.

Hotel yang dobangun tahun 1910 itu dulunya bernama LMS, lalu Hotel Oranje dan kemudian berganti menjadi Hotel Yamato dan Hotel Hoteru.

Pada 19 September 1945 terjadi Insiden Bendera di hotel tersebut.

Insiden bendera bermula saat sekelompok orang Belanda yang dipimpin Mr. Ploegman mengibarkan bendera Merah Putih Biru di puncak sebelah kanan hotel.

Kemudian para pejuang Indonesia bernama Hariyono dan Koesno Wibowo melakukan perobekan warna biru pada bendera Belanda.

Hingga bendera yang terpajang pada saat itu menjadi merah putih atau menjadi warna bendera Republik Indonesia. Insiden bendera itu juga mengakibatkan terbunuhnya Mr. Ploegman.

Baca juga: Hari Pahlawan, Kisah Hotel Majapahit Surabaya yang Legendaris

2. Jembatan merah

Pemandangan Willemskade di Surabaya sekitar 1910. Tampak gedung Algemeene menjadi tengara ikonik kawasan Jembatan Merah.
Dokumen KITLV
Pemandangan Willemskade di Surabaya sekitar 1910. Tampak gedung Algemeene menjadi tengara ikonik kawasan Jembatan Merah.

Popular:   Tempat Wisata Apa Saja Yang Ada Di Lombok

Jembatan merah adalah jembatan yang menghubungkan antara Jalan Rajawlai dengan Jalan Kembang Jepun, sisi utara Surabaya.

Kawasan Jembatan Merah adalah daerah perniagaan yang mulai berkembang sebagai akibat dari Perjanjian Paku Buwono Two dari Mataram dengan VOC pada 11 November 1743.

Sata itulah, Seurabaya berada sepenuhnya dalam kekuasaan Belanda.

Jembatan Merah mmenjadi salah satu monumen sejarah di Kota Surabaya.

Jembatan merah berperan penting saat perperangan karena masyarakat Surabaya saat itu bertahan di kawasan Jembatan Merah untuk melawan tentara Belanda dan Sekutu.

Baca juga: Tugu Pahlawan, Jejak Pertempuran 10 November di Surabaya

3. Gedung Internatio

Sesaat setelah Pasukan Sekutu mendarat di Tanjung Perak, mereka langsung menguasai gedung ini dan menjadikannya markas Tentara Sekutu.
cagarbudaya.kemdikbud.go.id
Sesaat setelah Pasukan Sekutu mendarat di Tanjung Perak, mereka langsung menguasai gedung ini dan menjadikannya markas Tentara Sekutu.

Gedung Internatio adalah salah satu gedung bersejarah di Kota Surabaya.

Sesaat setelah Pasukan Sekutu mendarat di Tanjung Perak, mereka langsung menguasai gedung ini dan menjadikannya markas Tentara Sekutu.

Kala itu, gedung ini bernama Internatio Willamplein.

Gedung ini memiliki peran penting yang memicu perang di Surabaya.

Banyak orang yang mengira, Mallaby tewas di Jembatan Merah, tapi sebenarnya peristiwa ini terjadi di sekitar area Gedung Internatio yang dibangun tahun 1920.

Kematian Mallaby menjadi awal meletusnya pertempuran 10 November 1945. Pada tanggal 23-three- Oktober 1945, gedung ini dikepung pejuang-pejuang Surabaya.

Baca juga: Peringatan Hari Pahlawan, Polisi Manyar Kenang Sosok Almarhum Wissriadi, Siapa Dia?

4. Tugu Pahlawan Surabaya

Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Upah minimum atau UMR Surabaya (UMR Surabaya 2021)
shutterstock.com/Nadezda+Murmakova
Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Upah minimum atau UMR Surabaya (UMR Surabaya 2021)

Tugu Pahlawan berada di tengah Taman Kebonrojo yang berada di seberang Kantor Gubernur Jawa Timur.

Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran x Nov 1945 di Surabaya.

Tinggi monumen Tugu Pahlawan adalah 41,15 meter dan berbentuk seperti lingga atau paku terbalik.

Monumen ini dibangun dengan bentuk lengkungan-lengkungan sejumlah 10 lengkungan yang terbagi atas 11 ruas.

Bentuk bangunan dari Tugu Pahlawan ini memiliki makna tersirat yaitu tinggi, ruas, dan lengkungannya mengandung makna tanggal 10, bulan eleven, tahun 1945 yang mengartikan tragedi 10 November 1945 yang bersejarah.

Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1952.

Baca juga: Ganjar Pranowo Mengusulkan Pocut Meurah Intan Jadi Pahlawan Nasional

5. Gedung Siola

Pejuang saat aksi teaterikal  pertempuran 10 Nopember 1945 dalam rangka  Parade Surabaya Juang menyambut Hari Pahlawan di depan Gedung Siola, Surabaya, Sabtu (9/11/2022). Parade diikuti oleh 3000 peserta dengan rute dari Tugu Pahlawan dan berakhir di Taman Bungkul.
Bahana Patria Gupta/Kompas
Pejuang saat aksi teaterikal pertempuran 10 Nopember 1945 dalam rangka Parade Surabaya Juang menyambut Hari Pahlawan di depan Gedung Siola, Surabaya, Sabtu (9/11/2022). Parade diikuti oleh 3000 peserta dengan rute dari Tugu Pahlawan dan berakhir di Taman Bungkul.

Popular:   Tempat Wisata Di Papua Beserta Alamatnya

Gedung Siola yang dibangun tahun 1877 adalah gedung bersejarah di Kota Surabaya. Gedung ini dibangun pertama kali oleh investor kebangsaan Inggris bernama Robert Laidlaw.

Ia juga merupakan pemilik Whiteaway Laidlaw & Co, perusahaan ritel besar dunia saat itu.

Ketika itu, gedung tersebut dibangun sebagai pusat perkulaan dengan nama “Het Engelsche Warenhuis” atau Toko Serba Ada Inggris.

Masa jaya keluarga Whiteaway Laidlaw di bidang perdagangan berakhir pada 1935, saat pendirinya meninggal dunia.

Baca juga: Dulu Pusat Penanggulangan Malaria Zaman Belanda, Kantor RS Ahmad Yani Metro Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Tahun 1935, saat Jepang masuk ke Surabaya, gedung tersebut diambil alih oleh pengusaha Jepang dan diganti namanya menjadi Toko Chiyoda.

Toko Chiyoda adalah toko tas dan koper terbesar di Surabaya kala itu. Karena populer, banyak orang yang juga membuka toko tas dan koper di sekitar toko tersebut.

Masa jaya Chiyoda berakhir tak lama setelah Jepang menyerah kalah pada sekutu. Toko Chiyoda pun ditutup, dan gedung pun menjadi kosong.

Baca juga: Mengenal Gedung Singa Algemeene, Cagar Budaya Surabaya yang Kini Dijual, Ada Sejak Tahun 1901

Saat perang pada November 1945, Gedung Chiyoda digunakan sebagai markas dan basis pertahanan rakyat Surabaya dari gempuran pasukan sekutu.

Gedung itupun akhirnya dijadikan sasaran tembakan tank-tank pasukan sekutu hingga membuatnya rusak dan terbakar.

Setelah perang berakhir, gedung tersebut dibiarkan menjadi gedung rusak dan tak terurus.

Hingga pada tahun 1950, Presiden Soekarno mengambil ali gedung tersebut menjadi aset Pemkot Surabaya.

Baca juga: Rumah Dokter Peninggalan Belanda Ini Jadi Cagar Budaya di Kota Metro

6. Gedung Grahadi

Suasana Rapat saat Presiden memberikan arahan pada jajaran Gugus Tugas Provinsi Jawa Timur di Gedung Grahadi, Kota Surabaya (25/6/2020)
DOK/BPMI
Suasana Rapat saat Presiden memberikan arahan pada jajaran Gugus Tugas Provinsi Jawa Timur di Gedung Grahadi, Kota Surabaya (25/6/2020)

Gedung ini dibangun tahun 1795, tempat tinggal Dirk van Hogendoorp, seorang penguasa Jawa bagian timur
(Gezahebber van Hat Oost Hoek).

Tahun 1799-1809 gedung ditempati Fredrik Jacob Rothenbuhler.

Pada tahun 1810 masa pemerintahan Herman William Deandels bangunan ini direnovasi menjadi empire style atau Dutch Collonial Villa.

Dikutip dari
Kemdikbud.go.id, gaya ini merupakan arsitektur neo klasik Perancis yang dituangkan secara bebas di Indonesia sehingga menghasilkan gaya Hindia Belanda bercotra kolonial.

Baca juga: Sebelum Jadi Cagar Budaya, Rumah Gubernur Jenderal VOC Sempat Akan Dibongkar

Popular:   Tempat Wisata Alam Yang Baru Di Indonesia

Tahun 1870 digunakan untuk rumah Residen Surabaya. Pada masa pemerintahan Jepang digunakan untuk rumah Gubernur Jepang (Syuuchockan Kakka). Sekarang digunakan sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Timur.

Luas tanah Grahadi 16.284 meter persegi, di tepi kalimas.

Sebelum dimiliki pemerintah, tanah ini milik seorang Tionghoa dan dibeli pemerintah dengan ganti rugi segobang atau 2,v sen.

Pembangunan gedungnnya dilakukan pada tahun 1795 dengan menghabiskan dana 14.000 ringgit.

Baca juga: TACB Kaji Rumah Menlu Pertama RI Achmad Soebardjo Jadi Cagar Budaya

7. Penjara Kalisosok

Eks Penjara Kalisosok yang ada di Jalan Kasuari, Surabaya, Jawa Timur, direkomendasikan untuk jadi wisata sejarah terintegrasi.
KOMPAS.COM/GHINAN SALMAN
Eks Penjara Kalisosok yang ada di Jalan Kasuari, Surabaya, Jawa Timur, direkomendasikan untuk jadi wisata sejarah terintegrasi.

Eks Penjara Kalisosok yang ada di Jalan kasuari, Surabaya merupakan bangunan cagar budaya.

Pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1943 hingga 1940, banyak pejuang yang dipenjara di Kalisosok.

Sejumlah pejuang Indonesia yang konon pernah merasakan pengapnya penjara Kalisosok adalah tokoh Muhammadiyah, KH Mas Mansur, WR Supratman, dan HOS Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam hingga Cak Durasim.

Baca juga: Ahli Cagar Budaya Rekomendasikan Eks Penjara Kalisosok Jadi Wisata Sejarah Kota Lama, Ini Alasannya

Di jaman orde baru, penjara penjara yang ditutup pada 2000 itu juga menjadi tempat tahanan politik. Banyak di antara mereka, sebelum dibuang ke Pulau Buru atau Nusakambangan, harus mendekam dan mendapatkan penyiksaan di Kalisosok.

Penjara ini dibangun oleh Belanda pada 1 September 1808 dengan biaya sekitar eight.000 gulden.

Penjara ini menjadi lokasi yang sangat meyeramkan kala itu karena ketatnya penjagaan dan beberapa kamar yang sangat sempit. Bahkan disebutkan jika beberapa tahanan diberi bandul  bola besi di kaki agar tidak lari.

Eks penjara di atas lahan seluas 3,half-dozen hektar itu pernah ditawarkan kepada publik melalui situs jual beli rumah pada September 2009..

Di situs itu tertulis
“Dijual cepat tanah 3,6 hektare di Kalisosok Surabaya (bekas penjara), strategis untuk mal, pertokoan, kompleks ruko, dan pusat perbelanjaan. Harga 3,5 juta/m2, nego, BU (butuh uang)”.

Bila dikalkulasi, maka harga secara keseluruhan yang dipatok untuk lahan itu Rp 126 miliar.

Baca juga: Cagar Budaya Kalisosok Ditawarkan lewat Situs Jual Beli Rumah

SUMBER: KOMPAS.com, Tribunnews.com, TribunJatim.com

Dapatkan update
berita pilihan
dan
breaking news
setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Source: https://regional.kompas.com/read/2021/11/10/072000878/hari-pahlawan-ini-7-bangunan-bersejarah-di-surabaya